THOUSANDS OF FREE BLOGGER TEMPLATES

Senin, 30 November 2009

Berawal Dari Hobi

Berawal dari Hobi
(Kisah J.K Rowling)

Di era globalisasi saat ini, banyak ribuan orang yang berkeluh kesah karena sulit mencari pekerjaan yang cocok dengan kemampuan yang dimiliki, sedangkan lapangan pekerjaan relatif sedikit apabila dibandingkan dengan jumlah masyarakat yang membutuhkan pekerjaan. Hal ini membuat pemerintah mencari jalan keluar agar dapat meminimalisir penganguran, diantaranya dengan program membuka usaha sendiri atau biasa kita kenal dengan wiraswasta. Tetapi wiraswasta pun membutuhkan modal yang cukup untuk membuka usaha yang diinginkan. Bagi kalangan ekonomi menengah ke bawah pasti merasa keberatan karena modal tidak punya dan pekerjaan pun terbatas. Hal serupa, juga dialami oleh Joanne Kathleen Rowling, yang sekarang kekayaannya lebih besar dari Ratu Elizabeth II.
Sebuah prestasi yang membanggakan bagi J.K Rowling yang lahir pada tanggal 31 Juli 1965 di Chipping Sodbury, Inggris. Ia menjadi sorotan kesusteraan internasional pada tahun 1999 saat tiga seri pertamanya novel remaja Harry Potter mengambil alih tiga tempat teratas dalam daftar “New York Times best-seller” setelah memperoleh peringkat yang sama di Britania Raya. Kemudian, saat seri ke-4, Harry Potter dan Piala Api diterbitkan pada bulan Juli 2000, seri ini menjadi buku paling laris penjualannya dalam sejarah. Pada penghujung Desember 2001, Rowling menikah yang kedua kalinya dengan Dr. Neil Murray. Dan dari pernikahannya dengan Murray, mereka dikaruniai 2 orang anak, yaitu David Gordon Rowling Murray dan Mackenzie Jen Rowling Murray. Sedangkan dari pernikahannya yang pertama, ia dikaruniai 1 orang anak, yaitu Jessica. Sebelum menjadi seorang penulis novel, lulusan dari Universitas Exeter ini berprofesi menjadi guru Bahasa Inggris di Portugal pada tahun 1990.
Berawal dari hobi, itulah kisah yang dialami oleh sosok penulis terkenal, J.K Rowling. Di saat ia mengalami kesulitan ekonomi ketika harus memenuhi kebutuhannya sendiri dan anaknya, Jessica. Ia sangat pasrah dan tidak bisa berbuat sesuatu karena ia ingin bekerja tapi tidak menemukannya. Selain itu ia juga tidak mempunyai modal usaha yang mencukupi. Akhirnya waktu terbuang sia-sia. Kebiasaanya saat itu hanyalah duduk di cafe-cafe bermodalkan kertas tisu dan sebuah pena lalu mulailah ia melakukan hobinya. Tetapi itulah awal kesuksesannya. Tanpa ia sadari hobinya adalah kelebihannya.

Akhirnya buku yang ia tulis selesai. Lalu ia mencoba menjual buku yang berjudul Harry Potter dan Batu Bertuah tetapi beberapa penerbit menolaknya, Rasa kecewa yang dirasakan Rowling tidak membuatnya putus asa sampai ada penerbit yang ingin membelinya. Pada akhirnya ia berhasil menjual buku itu denagn harga $ 4.000.
Tanpa terasa saat menjelang musim panas tahun 2000, tiga buku pertama Harry Potter ia telah memperoleh keuntungan kurang lebih 480 juta dollar Amerika Serikat dalam masa tiga tahun dengan cetakan 35 juta naskah dalam 35 bahasa. Harry Potter dan The Sorcerer’s Stone telah dibuat film yang mulai tayang pada tanggal 16 November 2001. Pada awal minggu pembukaannya di Amerika Serikat, telah memecahkan rekor dengan keuntungan sekitar 93,5 juta dolar [20 juta dolar lebih banyak dari pemegang rekor terdahulu yaitu film The Lost World : Jurassic Park (1999) ]. Itulah keberhasilan yang ia peroleh dari menulis. Terkesan unik apabila orang sukses karena berawal dari hobi menulis. Tetapi nasib orang siapa tahu. Menurut hasil penelitian yang pernah dilakukan oleh Harvard Business School bahwa menulis itu dapat membantu menemukan jalan hidup. Karena dengan menulis juga dapat mencapai cita-cita. Selain itu juga menurut James W Pennebeker1, salah satu kedasyahatan menulis yaitu mengurangi stres, karena kondisi mental orang-orang yang terbiasa mengekspresikan emosi atau unek-unek dengan menulis, lebih stabil dibandingkan orang-orang yang tidak biasa menulis. Menurut pendapat Dr. Edward Coffey2, membaca dan menulis sangat bermanfaat memperkaya jaringan syaraf otak. Pakar kebahasaan lainnya, Dr. Stephen D. Krashen3, seorang ahli linguistik yang meneliti tentang kekuatan dashyat membaca, Hasil risetnya itu ia bukukan dengan judul The Power of Reading. Dalam buku tersebut ditunjukkan bahwa banyak orang bisa menulis karena mulai belajar dengan membaca
Itulah yang dilakukan J.K Rowling saat berusaha menghilangkan stresnya saat menghadapi kesulitan ekonomi. Jadi berupa keistimewaan yang luar biasa dan kita mengambil pelajaran dari kisah J.K Rowling apabila kita sedang merasakan kesulitan khususnya dalam bidang ekonomi.

Kisah J.K Rowling diikuti oleh Andina Nabila Irvani. Usaha sepatu lukis yang berawal dari hobi, semakin berkembang ke produk lain seperti tas dan kaos lukis. Berawal dari hobi melukis dan gonta-ganti sepatu, Andina Nabila Irvani memulai bisnis sepatu kanvas lukis bersama kakaknya Nerissa Arviana. Kini mereka pun memiliki produk lain seperti kaos dan tas lukis.
Andina yang akrab disapa Dina, mulanya membuatkan lukisan pada sepatu kakaknya. Tidak disangka banyak teman-teman kakaknya tertarik dengan buah karya Dina. Sejak itu pun pesanan sepatu kanvas lukis terus berdatangan.
Dengan modal pinjaman dari orang tuanya, mahasiswa semester tiga Desain Kominikasi Visual Bina Nusantara ini mendesain dan melukis sendiri di beberapa pasang sepatu. Begitu dipasarkan ke teman-temannya di kampus, selusin sepatu kanvas lukis Dina terjual habis.
Kreativitas Dina tidak berhenti di sepatu saja. Pemenang Shell Live WIRE Business Start Up Award 2009 ini mencoba membuat kaos lukis dan tas lukis. Hasilnya, tidak kalah bagusnya dengan sepatu lukis.
Keunikan dari sepatu, kaos dan tas lukis Dina adalah ketajaman warna dan kehalusan pada setiap lukisan yang dibuatnya. Selain itu Dina dan Nerissa rajin mencari tema lukisan setiap bulannya. "Setiap bulan kami punya tema-tema gambar. Tapi pembeli juga bebas untuk buat sendiri sketsa lukisannya," lanjut Dina.
Dina membuat brand produknya dengan nama Spotlight. Ada lima jenis sepatu lukis yang dijual Dina, yaitu vans style, flats style, converse style, flats bertali dan sepatu putih polos untuk dilukis sendiri oleh pembali. Untuk sepasang sepatu lukis dijual seharga Rp 110.000 - 200.000, tas lukis dan kaos dipatok seharga Rp 100.000.
Kini pemesan sepatu lukis tidak hanya sekitar Jakarta saja tapi sudah sampai luar pulau Jawa bahkan sampai Aceh dan Papua. Dina mengaku, kini omsetnya sudah mencapai Rp 18-20 juta per bulan. Menurutnya kesuksesan usaha ini tidak lepas dari dukungan orang tuanya.


1James W Pennebaker, Ph.D., Professor of Psychology dari University of Texas dan penulis buku “Opening Up: The Healing Power of Expressing Emotions“
2Dr. Edward Coffey, seorang ahli riset neurolog
3Dr. Stephen D. Krashen, seorang ahli linguistik

0 komentar: